Selasa, 27 Mei 2014
journey: DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM
journey: DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM: DJKN TURUT SERTA DALAM KEBERHASILAN PT. INALUM MENJADI BMN “Pemerintah selalu berkomitmen terhadap kelangsungan dan peningkatan usaha ...
Rabu, 12 Maret 2014
DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM
DJKN TURUT SERTA DALAM KEBERHASILAN PT. INALUM MENJADI BMN
“Pemerintah selalu berkomitmen terhadap kelangsungan dan
peningkatan usaha PT Inalum”. Hal tersebut disampaikan Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara dalam dialog dengan jajaran direksi dan
karyawan PT Inalum, Jumat 11 Oktober 2013 di Aula Pertemuan PT Inalum Kuala
Tanjung, Sumatera Utara.
Adalah merupakan suatu prestasi
yang dapat dibanggakan dari Tim Negoisasi Pengambilalihan PT Inalum yang telah
berhasil melakukan akuisisi kepemilikan PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) yang
semula sebagian besar sahamnya dimiliki oleh konsorsium perusahaan Jepang dalam
Nippon Asahan Alumunium (NAA), menjadi 100 % sepenuhnya milik pemerintah
Indonesia, dengan keberhasilan itulah PT Inalum merupakan bagian dari Barang
Milik Negara yang dikelola oleh BUMN.
Keberhasilan pengalihan hak atas
perusahaan pengolah alumunium dan pembangkit tenaga listrik air melalui jalan
yang berliku dan telah diupayakan sejak beberapa tahun sebelum berakhirnya maka
kontrak kerja PT INALUM yang dikelola sebagian besar oleh konsorsium perusahaan
Jepang, namun pada tanggal 1 November 2013 Tim Pemerintah Indonesia telah
berani mengambil langkah yang memang sudah selayaknya yaitu memutuskan untuk
melakukan termination agreement (pengakhiran kerjasama), karena
selama 30 tahun pengelolaan Inalum yang berdasarkan perjanjian antara
Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam Master Agreement for the Asahan
Hydroelectric and Aluminium Project (MA) pada 7 Juli 1975,
kontrak kerjasama berakhir pada 31 Oktober 2013.
Proses pengambilalihan saham PT
Inalum tidaklah berjalan cepat, walau berakhir akhir Oktober 2013, namun proyek
kerjasama Pemerintah Indonesia dan investor Jepang yang tergabung dalam Nippon
Asahan Alumunium (NAA) yang mempunyai saham terbesar 58,88 % sedangkan pemerintah
Indonesia 41,12 %, masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan kerjasama
kegiatan ini, karena terkait dengan adanya proyek peleburan alumunium yang
terbesar di Asia Tenggara ini telah memberikan dampak keuntungan yang
menggiurkan bagi kelangsungan industri milik perusahan Jepang tersebut.
Dengan melakukan upaya negoisasi
yang terus menerus, yang dilakukan Tim negoisator pemerintah Indonesia dipimpin
oleh Bapak Mohamad Suleman (M.S.) Hidayat Menteri Perindustrian dengan anggota antara lain DJKN Kementerian
Keuangan, akhirnya dapat memberikan hasil kesepakatan untuk menyerahkan PT
Inalum kepada Indonesia, namun bukan Jepang namanya bila perundingan bisa cepat
selesai, Nilai Buku PT Inalum menjadi kendala, karena berdasarkan audit BPKP
sekitar US$ 424 juta tapi berdasarkan penilaian NAA Jepang mencapai angka 626,
1 juta.
Tim Negoisasi pengambilalihan PT
Inalum, melakukan pertemuan dengan NAA Jepang di Singapura 12 November 2013, “Pertemuan
adalah dalam rangka mencapai titik temu harga buku PT Inalum, pemerintah
Indonesia menginginkan harga pengambilalihan yang lebih rendah dan jika proses
negoisasi tidak mendapat titik temu maka pemerintah akan mengambil langkah
membawa ke lembaga arbitase internasional”. Demikian disampaikan Bapak
Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara yang terlibat dalam Tim Negoisasi
di Kantor Kementerian Keuangan 11 November 2013.
Pada pertemuan di singapura inilah
Tim Negoisasi bersama NAA Jepang telah berhasil mencapai kesepakatan yaitu
pengakuisisian PT Inalum kepada Pemerintah Indonesia dengan nilai buku sebesar US$
556 juta, selanjutnya penandatanganan pengambilalihan Termination Aggreement dilakukan pada tanggal 9 Desember 2013 dan
proses pengambilalihan akan selesai pada tanggal 19 Desember 2013, setelah
transfer dana senilai kesepakatan diterima pihak NAA Jepang di Tokyo.
Dengan berakhirnya upaya Tim
Negoisasi dan hasil kesepakatan tersebut, melalui persetujuan DPR tentunya,
maka pemerintah Indonesia dapat melakukan pembayaran senilai yang disepakati,
untuk menjadikan PT Inalum yang terletak pada hamparan wilayah strategis proyek
asahan dan meliputi 10 Kabupaten dan kotamadya di Provinsi Sumatera Utara telah
menjadi milik sepenuhnya Pemerintah Indonesia, menjadi bagian Barang Milik
Negara (BMN).
Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan,
pada acara Economic Challenges di
Metro TV menyatakan “memberikan apresiasi yang tinggi kepada Direktur Jenderal
Kekayaan Negara Kemenkeu dan Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional
Kemenperin, atas upaya kerja keras dalam pengambila alihan PT Inalum ketangan
pemerintah Indonesia”. Sehingga PT Inalum telah resmi menjadi bagian aset
negara dan diresmikan sebagai BUMN ke 141.
BEBERAPA ALASAN PT. INALUM MENJADI
BMN
1. Industri alumunium mempunyai
prospek yang baik, dengan meningkatnya industrilisasi maka kebutuhan akan
alumunium akan semakin meningkat terutama permintaan di pasar domestik.
2. PT Inalum merupakan satu-satunya
industri penghasil alumunium ingot di dalam negeri, yang bisa digunakan untuk
peningkatan industri terbarukan, selama ini hasil dari PT Inalum sekitar 70%
dikirim ke Jepang dan sisanya untuk pasar domestik Indonesia, dengan kemampuan
produksi saat ini sekitar 240 ribu ton setahun.
3. PT Inalum merupakan salah satu
industri alumunium smelting dengan profitibilas yang tinggi untuk industri
alumunium secara keseluruhan, sehingga bisa menghasilkan suatu nilai tambah.
4. PT Inalum merupakan satu-satunya
perusahaan peleburan alumunium di asia Tenggara yang memiliki fasilitas lengkap
seperti pabrik carbon plant, reduction plant dan casting plant, yang dapat
dikembangkan lebih lagi menjadi nilai tambah.
5. Bagian dari PT Inalum yaitu PLTA
Sigura-gura merupakan pemasok tenaga listrik yang besar yang bisa sangat
bermanfaat untuk peningkatan kehidupan dan kesejahteraan Indonesia khususnya
Provinsi Sumatera Utara.
6. PT Inalum dapat menjadi suatu
kegiatan menuju intergrasi Industrialisasi Indonesia, untuk menjadikan suatu
nilai tambah guna kepentingan industri terbarukan di Indonesia, pengembangan
industri bauksit dan klaster industri hilir alumunium akan lebih mudah
dilakukan, dikatakan oleh Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri.
7. PT Inalum juga secara langsung
sudah dapat ditangani oleh putar-putri Indonesia secara lansung, dengan
pengalaman selama 30 tahun akan bisa menjalankan perusahaan secara profesional.
8. PT Inalum
bisa memberikan keuntungan dividen dan peningkatan pembayaran pajak serta multiplier
effect di berbagai sektor, dikatakan oleh Bapak Hadiyanto Dirjen kekayaan
Negara.
SEJARAH SINGKAT PT INALUM.
Perusahaan ini berawal dari kegagalan
pemerintah Belanda menghasilkan tenaga listrik dari Danau Toba. Ini yang
membuat pemerintah Indonesia membuat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di
sungai tersebut.
Pada 1972, pemerintah menerima laporan
studi kelaikan proyek PLTA dan Aluminium Asahan dari sebuah perusahaan
konsultan Jepang, Nippon Koei. Laporan tersebut, menyebutkan bahwa PLTA layak
untuk dibangun dengan sebuah peleburan aluminium sebagai pemakai utama dari
listrik yang dihasilkan dari PLTA Asahan tersebut.
Pemerintah Republik Indonesia dan 12
perusahaan penanam modal dari Jepang yaitu
Sumitomo Chemical Company Ltd., Sumitomo Shoji Kaisha Ltd., Nippon Light
Metal Company Ltd., C Itoh & Co., Ltd., Nissho Iwai Co., Ltd., Nichimen
Co., Ltd., Showa Denko K.K., Marubeni Corporation, Mitsubishi Chemical
Industries Ltd., Mitsubishi Corporation, Mitsui Aluminium Co., Ltd., dan Mitsui
& Co., Ltd., yang membentuk gabungan perusahaan pada 25 November 1975 di
Tokyo dengan nama Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd (NAA), telah menandatangani
perjanjian induk untuk PLTA dan Pabrik Peleburan Aluminium Asahan yang kemudian
dikenal dengan Proyek Asahan, tanggal 7 Juli 1975 di Tokyo.
Pada 6 Januari 1976, Inalum, sebuah
perusahaan patungan antara pemerintah Indonesia dan Nippon Asahan Aluminium
Co., Ltd, didirikan di Jakarta. Inalum adalah perusahaan yang membangun dan
mengoperasikan Proyek Asahan, sesuai dengan Perjanjian Induk.
Perbandingan saham antara pemerintah
Indonesia dan Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd., (NAA) pada saat perusahaan
didirikan adalah saham pemerintah sebesar 10 persen dan saham NAA 90 persen.
Pada Oktober 1978, perbandingan tersebut menjadi 25 persen dan 75 persen dan sejak
Juni 1987 menjadi 41,13 persen dan 58,87 persen. Sejak 10 Februari 1998 menjadi
41,12 persen dan 58,88 persen.
Untuk melaksanakan ketentuan dalam
perjanjian induk, Pemerintah Indonesia kemudian mengeluarkan SK Presiden No.
5/1976 yang melandasi terbentuknya Otorita Pengembangan Proyek Asahan sebagai
wakil Pemerintah yang bertanggung jawab atas lancarnya pembangunan dan
pengembangan Proyek Asahan.
Inalum sebagai pelopor dan perusahaan
pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium
dengan investasi sebesar 411 miliar yen.
Konsorsium ini beranggotakan Japan Bank
for International Cooperation (JBIC), yang mewakili pemerintah Jepang dan
mendapat porsi 50 persen saham. Sisanya dimiliki 12 perusahaan swasta Jepang.
Menurut perjanjian, kontrak kerja sama pengelolaan Inalum berakhir pada 31
Oktober 2013.
PERJALANAN AKUISASI INALUM TAHUN 2013:
26 Februari 2013, Dirjen Kekayaan Negara berkunjung ke Inalum.
Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara melaksanakan kunjungan kerja ke Pabrik PT Indonesia Asahan Aluminium
(Inalum) yang berlokasi di Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan, sekaligus melakukan
peninjauan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura, di Desa Paritohan,
Kecamatan Porsea, Kabupatem Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, didampingi
oleh Bapak Agus Rijanto Sedjati Sekretaris DJKN dan Bapak Arif Burhanudin Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan .
11 Oktober 2013, Dirjen Kekayaan Negara berkunjung kembali ke Inalum
Bapak
Hadiyanto mengatakan: “Komitmen pemerintah akan terus berlanjut bahkan akan
ditingkatkan dari apa yang sudah dicapai sekarang. Pemerintah ingin memastikan
kelanjutan usaha, keberlangsungan usaha, dan operasional perusahaan harus terus
berlanjut bahkan meningkat”.
17 Oktober 2013, Rapat di Gedung Mandiri
Bapak Dahlan Iskan selaku Menteri
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan: "Soal
Inalum, nanti ada rapat dengan Menteri Koordinator Perekonomian, BUMN ikut saja
keputusannya. Apakah akan jatuh di bawah BUMN atau Menkeu, kalau jatuh di BUMN
itu memang 100 persen milik Indonesia dan pengelolaan yang lain-lain di bawah
BUMN, sehingga evaluasi manajemennya sama seperti BUMN lain. Kalau di Menkeu
mungkin kelebihannya adalah bila ada keperluan penyelesaian akibat
transkasi akan lebih cepat karena langsung dengan persetujuan Menkeu, tapi yang terpenting adalah PT Inalum dapat menjadi milik Indonesia”.
25 Oktober 2013, Pemutusan kontrak tertunda,
Penundaan acara penandatanganan pengakhiran kerjasama dengan Jepang yang awalnya
direncanakan berlangsung hari Jumat 25 Februari 2013, dikarenakan belum terselesaikan proses pembahasan antara pemerintah dengan Komisi XI.
"Diundur beberapa hari. Yang penting kepastian atau
kesepakatan mengenai harga sudah disetujui dan Inalum nanti jadi di bawah
naungan Kementerian BUMN, Direksi Jepangnya akan diganti," dikatakan oleh Bapak
MS Hidayat.
30 Oktober 2013, Rapat dengan DPR yang sedang reses.
Pemerintah kembali
melakukan rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait pengambil alihan
PT Nippon Asahan Alumunium atau Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) dan membahas
persetujuan anggaran pengambilalihan Inalum, "DPR sedang masa reses, tapi
karena kepedulian kita kepada aset negara maka kita kembali dari daerah untuk
melakukan rapat ini," kata Ketua Komisi XI Olly Dondokambe
Rapat dengan DPR dihadiri oleh Menteri Keuangan Chatib Basri, Dirjen Pajak Fuad Rachmany, Dirjen Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahyana, Deputi Kementerian BUMN, dan beberapa pejabat lain dari kementerian terkait.
"Ini bukan
persoalan jual beli. Pemerintah mau ambil alih atau tidak. Kalau pemerintah
tidak mau ambil alih, Jepang akan perpanjang. Jepang mati-matian mau
perpanjang," tegas Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri saat melakukan
rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Pemerintah berniat untuk mengambil alih saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) keseluruhan 100%, adalah bukan tanpa
alasan. Dikarenakan selama 30 tahun, PT Inalum yang memproduksi aluminium dikuasai oleh Nippon
Asahan Aluminium (NAA), Jepang maka seharusnyalah saat ini bangsa Indonesia untuk memulai pengelolaannya secara penuh dan yang akan memikirkan masa depan PT Inalum.
"Kami melihat
putra putri Indonesia sudah sangat mampu menangani dan mengembangkan Inalum
sendiri ke depan setelah memiliki pengalaman 30 tahun. Kedua, keikutsertaan
kembali NAA ke dalam Proyek Asahan tidak diatur dalam master agreement," kata Bapak Chatib Basri saat Rapat Kerja Pembahasan
Inalum diGedung DPR-RI.
11 November 2013, Rapat Tim Negoisasi di Kemenkeu.
Tim
negosiasi pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)
dijadwalkan kembali bertemu dengan pihak Nippon Asahan Alumunium
(NAA) di Singapura, Selasa 12 November 2013 besok.
Direktur
Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Bapak Hadiyanto yang juga
terlibat dalam tim negosiasi menyatakan, pertemuan tersebut akan membahas
masalah selisih harga yang hingga saat ini masih mewarnai proses pengambilalihan
58,88 persen saham perusahaan Jepang itu yang telah diputuskan akan diberikan
kepada Pemerintah Indonesia.
"Betul,
akan membahas perundingan yang belum mencapai titik temu masalah harga, jadi pertemuan nanti belum merupakan pertemuan final. Jika dalam pertemuan besok, ada titik temu antara kedua belah pihak, maka akan segera ditindaklanjuti pemerintah sesuai kesepakatan. Selanjutnya dari hasil pertemuan besok dengan mereka (pihak Pemerintah/Swasta jepang), akan kita konsultasikan dengan Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri dan Menko Perekonomian Bapak Hatta Rajasa", dikatakan oleh Bapak Hadiyanto di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
"Apabila terjadi kemungkinan permasalahan nilai aset dari PT Inalum tidak juga dapat diselesaikan melalui negosiasi, maka kita akan selesaikan di Pengadilan Arbitrase Internasional", dikatakan lebih lanjut oleh Bapak
Hadijanto di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
27 November 2013, Menteri Perindustrian MS Hidayat.
Setelah beberapa kali
berunding, pada 27 November 2013 tim Indonesia dan dari pihak Jepang akhirnya
mencapai kesepakatan bahwa harga kompensasi atas proyek asahan yang akan
diterima oleh PT Nippon Asahan Aluminium (NAA) sebesar USD556,7 juta. Adapun tim Indonesia terdiri dari Dirjen
Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Dirjen Kekayaan Negara Kemenkeu,
Deputi PIP Bidang Perekonomian BPKP dan Direktur Peraturan Perpajakan II Ditjen
Pajak Kemenkeu. Sedangkan dari pihak Jepang dihadiri oleh Ketua Tim Delegasi
NAA bersama anggotanya serta perwakilan dari ministry of economy, Trade and
Industry (METI).
9 Desember 2013, Konsorsium Nippon ke Kemenperin
pelapasan Inalum.
PT Indonesia
Asahan Aluminium (Inalum) resmi menjadi milik Indonesia sebagai
perusahaan badan usaha milik negara (BUMN). Penyerahan Inalum dilakukan
dengan perjanjian pengakhiran master
agreement dan sekaligus pengalihan seluruh saham yang dimiliki Nippon Asahan Aluminium kepada Pemerintah Indonesia.
Dalam proses penandatanganan dihadiri oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Menteri Koordinator Perekomian Hatta Rajasa.
Sementara dari pihak PT Inalum hadir Presiden Direktur Mikio Mizuguchi, para direktur, Nasril Kamaruddin, Harmon Yunaz, dan Sahala Hasoloan Sijabat, serta Komisaris Emmy Yuhassarie.
"Dengan
perpindahan saham, mudah-mudahan Inalum bisa menjadi perusahaan multinasional
yang baik," ujar Ketua Konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA) Yoshiki
Akamoto, di kantor Kementerian Perindustrian.
19 Desember 2013, Inalum menjadi BUMN ke 141.
Secara resmi mulai hari ini 19 Desember 2013, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) secara resmi telah menjadi bagian dari aset negara dan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ke-141.
Dengan ditandatanganai akta
jual beli PT. Inalum antara pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri BUMN Dahlan
Iskan dan perwakilan investor Jepang dari Konsorsium NAA (Nippon Asahan
Alumunium), maka resmi secara keseluruhan telah menjadi aset negara, aset bangsa Indonesia dan bukan lagi merupakan perusahaan gabungan dengan pihak pemerintah/swasta Jepang.
Acara penandatanganan akte tersebut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, BPKP dan Jajaran Direksi Inalum.
Acara penandatanganan akte tersebut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, BPKP dan Jajaran Direksi Inalum.
Menteri BUMN Dahlan Iskan secara langsung juga mengumumkan sekaligus menjelaskan bahwa untuk keberlangsungan PT Inalum saat ini masih tetap dilaksanakan kegiatannya oleh Para Direksi PT Inalum minus Dirut PT Inalum lama yang warganegara Jepang, sehingga posisi jabatan direksi Inalum tetap dipegang pejabat lama, sampai nantinya dilakukan perubahan atau pergantian melalui proses Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).
"Hari ini baru
final bahwa menjadi BUMN nanti akan RUPS ditentukan dirutnya. Dirut sekarang
orang dalam jadi operasional nggak terganggu. RUPS bisa kapan saja. Dirut
ditentukan RUPS," sebutnya.
30 Desember 2013, talkshow di METRO TV
Bapak Hadiyanto, Direktur
Jenderal Kekayaan Negara mengikuti acara Economic Challenges mengambil topik Pengambilalihan PT Indonesia
Asahan Aluminium (Inalum) ditayangkan pada 30 Desember 2013 pukul 21.00 WIB di
MetroTV yang juga dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan
Iskan dan Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional (Dirjen KII)
Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana Wirakusumah dengan pembawa acara
Suryopratomo.Menteri BUMN Dahlan Iskan pada saat menjelaskan antara lain "Adanya keuntungan yang bisa dirasakan rakyat Indonesia dengan pengalihan kepemilikan Inalum, adalah nantinya PT Inalum akan bisa menyumbangkan kapasitas listriknya untuk wilayah Sumatera Utara yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat, serta kebutuhan akan alumunium di dalam negeri lebih bisa terjamin karena adanya suplai lansung dari PT Inalum yang telah menjadi milik bangsa Indonesia”.
Bapak
Hadiyanto sebagai Dirjen KN mengatakan, "Negara Indonesia akan mendapat keuntungan
yang jauh lebih besar dari kompensasi yang dibayar, nilai kas pada Inalum tersediadana sekitar 400 juta Dollar Amerika ditambah nilai inventori dan total nilai aset Inalum lebih dari 1 Milyar Dollar
Amerika”.
Bapak Agus Tjahajana Dirjen KII Kemenperin antara lain menyatakan bahwa saat ini manajemen PT Inalum ada didalam penguasaan Kementerian BUMN.
Bapak Agus Tjahajana Dirjen KII Kemenperin antara lain menyatakan bahwa saat ini manajemen PT Inalum ada didalam penguasaan Kementerian BUMN.
Selanjutnya Bapak Hadiyanto Dirjen KN menyebutkan terkait status kepemilikan PT Inalum adalah merupakan aset negara karena dana nya berasal dari APBN dan dikelola oleh BUMN milik negara, sedangkan salah satu fungsi dari Kementerian Keuangan adalah melakukan investasi, kita yakin nantinya PT Inalum akan dapat memberi keuntungan baik terhadap dividen maupun pembayaran pajak dan akan meningkatkan multiplier effect di berbagai sektor”. Sebagai penutup Bapak Dahlan Iskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dirjen KN dan Dirjen KII yang telah bekerja keras dalam pengambilalihan PT Inalum.
Penyerahan PT Inalum
ke pangkuan Indonesia itu baiknya kita syukuri (Komisi XI DPR-RI). Selamat atas keberhasilan Tim Negoisasi yang telah mengantarkan PT Inalum menjadi bagian dari asset negara Republik Indonesia.
Coming together is a beginning, keeping together is progress, working together is success. (Henry Ford)
WiNanda.
**dari berbagai sumber
Sabtu, 22 Februari 2014
MASJID ATTAQWA BALIKPAPAN, KEIKHLASAN PENGELOLA
![]() |
| tampak Depan Masjid |
Dalam
kunjungan ke kota Balikpapan akhir November 2013, Bapak Widya Sananda sempat
mengunjungi Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan di Jalan Jenderal Sudirman yang
letaknya sejajar dengan Taman Bekupai kota Balikpapan.
Setelah
shalat ashar penulis telah berjumpa dan berdialog dengan beberapa pengurus masjid,
adanya penjelasan yang penuh historis
tentang keberadaan masjid dan pengelolaannya dengan kondisi saat itu patut
kiranya diberikan apresiasi terhadap Para
Pengurus masjid tersebut.

Masjid At-Taqwa Balikpapan yang awalnya didirikan ditepi pantai yang sekarang dikenal “Pasar Klandasan Ulu” Kecamatan Balikpapan Kota, dibangun pada tahun 1940an merupakan suatu tempat ibadah muslim di kota Balikpapan.
Pendiri awal masjid At-Taqwa merupakan beberapa masyarakat yang beragama Islam yang tinggal di sekitar kota Balikpapan, antara lain Habib Ghasim Bahasim, Habib Ali Assegaf, H. Abdul Malik, H. Kiai Kintang, H. Bahrum, H. Abdul Ghani, H. Abdul Ramli, H. Sulaiman, H. Asnawi Arbain, H. Tharmiji Abbas, H. Abdul Hasan dan lainnya, sebagaimana yang ditulis oleh pengurus masjid saat berjumpa dengan penulis. Namun pada waktu perang dunia ke-2 (1946) masjid sempat dibom tentara sekutu dan bangunannyapun luluh lantak .
Akibat porak-porandanya
bangunan masjid tersebut, maka dengan inisiatif masyarakat kota Balikpapan pada
tahun 1950 dibangun kembali bangunan masjid, namun untuk menghindari terjadinya
abrasi pantai lokasinya dipindahkan ke wilayah daratan sebelah utara yang jaraknya
beberapa ratus meter didepannya, sebagaimana letaknya seperti sekarang ini
dengan nama Masjid Jami At-Taqwa Balikpapan.
Pada tahun
1970an dan tahun 1990 Masjid At-Taqwa dilakukan renovasi sehingga semula
bernama Masjid Jami berubah menjadi Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan. Selanjutnya
dengan upaya pengurus masjid membentuk Panitia Pembangunan Masjid pada tahun
2004 dengan pimpinan H.M. Roem Arbain, H. Amirullah Usman, H. Muhammad Idrus,
H.M. Yususf Sabran dan lainnya, telah mendirikan bangunan masjid yang megah dengan area bangunan yang diperluas
dan dipercantik seperti yang tampak megah berdiri saat ini.
Disaat penulis
melaksanakan ibadah sholat dzuhur dan ashar di Masjid yang megah ini, terasa
kenikmatan kenyamanan melakukan ibadah didalam masjid, dikarenakan luas masjid
dan interior yang megah, diiringi dengan disain bangunan yang memberikan ruang
udara yang baik melalui ventilasi jendela yang besar, terasa ingin berlama-lama
berada didalam ruang masjid ini, tanpa terasa pelaksanaan ibadahpun semakin
khusyu. SubhanAllah wa bi hamdi.
“Barang siapa membangun
masjid untuk Allah karena mengharap ridhaNya, maka Allah akan membangunkan
untuknya bangunan seperti masjid yang dibangun di syurga.” (H.R. Ahmad)
Kemegahan
Masjid Agung At-Taqwa akan tampak bila berjalan menyusuri jalan Jenderal
Sudirman kota Balikpapan, dengan luas masjid sekitar 5.268 m2 yang terdiri dari
3 lantai bangunan serta adanya selasar yang cukup luas, sehingga dapat
menampung sekitar 3.800 jamaah lebih. Adanya halaman penunjang dan taman yang
cukup asri, disertai adanya beberapa bangunan penunjang seperti lapangan parkir
yang luas, ruang sekretariat dan beberapa bangunan tempat aktifitas pendidikan
dan pembelajaran, telah memberikan kesan tersendiri dan menjadikan penulis
kagum akan masjid ini.
Pengurus Masjid At-Taqwa Kota Balikpapan silih berganti, untuk periode 2012 - 2015 Pengurus Masjid adalah H. Suwandi, H. Syahrani, H. Ramli Abbas dan lainnya. "Saat ini pengurus mempunyai suatu rencana kerja untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah melalui pemeliharaan dan perbaikan beberapa tempat agar Masjid At-Taqwa semakin indah dan nyaman bagi pengunjung yang akan melaksanakan ibadah di masjid ini", demikian dikatakan salah seorang pengurus masjid kepada penulis.
Saat mengelilingi area masjid, penulis semakin kagum terhadap rancangan dan tata kelola pengurus masjid, banyak hal yang membuat penulis perlu memberikan apresiasi terhadap Pengelola Masjid Agung At-taqwa Balikpapan ini, terutama adalah dengan dibangunnya beberapa lembaga pendidikan terutama TK TPA yang letaknya dibelakang mimbar masjid, telah membuat penulis terkagum dan terharu, di lembaga pendidikan ini siswa diajarkan bagaimana bisa membaca dan memahami Al-Qur’an yang dibimbing oleh beberapa orang Guru yang kami lihat penuh dengan keikhlasan dan kesabaran.
Keharuan semakin
terasa saat penulis berbincang dengan beberapa Guru pembimbing TK TPA Masjid
At-Taqwa ini, dengan dedikasi tinggi mereka telah membimbing siswa dengan sabar
dan penuh keilkhlasan, setiap siswa yang belajar hanya dikenai dana bimbingan
sebesar Rp. 50.000,- persiswa setiap bulan bahkan sebagian dibebaskan dari
biaya karena dari keluarga tidak mampu, dengan jumlah siswa yang ada berbanding
jumlah pembimbing honorarium yang mereka terima tidaklah sebanding dengan
pengabdian mereka. Namun dari peninjauan penulis sebagian siswa adalah terdiri
dari keluarga mampu yang diantar jemput dengan kendaraan mobil, namun pengelola
TK TPA tetap memberikan bimbingan yang sama.
Penulis dapat
merasakan betapa besar pengabdian dari pembimbing TK TPA ini, bila dibandingkan
dengan pembimbing yang sama di Jakarta pada beberapa sekolah yang penulis ketahui, sangatlah berbeda tingkat pengabdian yang mereka
lakukan, terutama bila dikaitkan dengan honorarium yang diperoleh. Bahkan
prestasi dari TK TPA Masjid At-Taqwa ini tidaklah kalah dari TPA yang ada di
kota besar lainnya, yaitu pernah menjadi juara umum lomba baca Al-Qur’an
tingkat SD-TPA se Balikpapan Tahun 2011.
Allah Maha
Besar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, saat berdialog dengan salah satu
pembimbing penulis sempat menitikkan air mata, dikatakan bahwa terdapat Pembimbing
yang baru saja pulang pergi haji ke Mekkah dengan menggunakan ONH Plus dan
dibiayai sepenuhnya oleh orangtua siswa yang dibimbingnya, sedangkan biaya ONH
Plus yang penulis ketahui adalah sekitar U$ 8500 dan bila dikalikan dengan nilai
rupiah hampir mendekati angka Rp. 100 juta. SubhanaAllah.
“Fabiayyi ‘ala i
Rabbikuma tukadziban...”
Tak terbayangkan
seorang yang sederhana namun dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho Allah
dalam memberikan bimbingan membaca Al-Qur’an, telah diberikan anugerah Illahi
dapat berkunjung ke Mekkah Rumah Allah dengan perjalanan yang istimewa dan
tidak mengeluarkan biaya apapun, inilah rahmat Allah Yang Maha Pemurah yang
telah membuat penulis terharu terhadap bentuk keikhlasan dan kemurahan hati
orangtua siswa TK TPA.
Semoga
Allah Yang Maha Kuasa melimpahkan rezeki yang berlimpah kepada orangtua yang
telah memberikan sebagian rezekinya untuk memberangkatkan haji Pembimbing tersebut.
Saat
berdialog dengan rasa keharuan, dikatakan oleh pembimbing tersebut bahwa ini
merupakan suatu kejadian ini tidak akan pernah terpikirkan olehnya, para
pembimbing disini bekerja semata-mata keikhlasan dan memohon ridha Allah,
mereka tidak terpikirkan untuk mendapatkan imbalan lainnya kecuali apa yang
mereka peroleh dari pengelola, prinsip
mereka apabila memang dalam perjalanan pemberian bimbingan terdapat pembimbing
yang merasa tidak tercukupi dari honorarium yang diterima dipersilahkan untuk
mencari di luar kegiatan yang ada.
Namun Allah
Yang Maha SegalaNya telah memberikan karuniaNya kepada yang dipilihNya terhadap
siapa saja yang mempunyai keikhlasan dalam membimbing untuk menjadikan dapat
membaca Al-Qur’an akan diberikan suatu kenikmatan baik di dunia maupun di
Akhirat, Janji Allah adalah Pasti.
“Innaka la tukhliful mi’ad”.
Dalam
lingkungan Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan juga terdapat makam pendiri pertama
masjid tampak ter-urus dengan asri, letaknya berdekatan dengan Gedung TK-TPA.
Disebelah kiri makam saat penulis berjalan tampak adanya garasi mobil jenazah yang bisa
digunakan oleh keluarga jamaah masjid tanpa biaya apapun. Pada bagian depan masjid disamping sebelah kiri terdapat bangunan dua lantai yang diperuntukan kegiatan pendidikan Madrasah Diniyyah Plus pada lantai atas, yang sebagian siswanya
adalah dari keluarga kurang mampu sehingga dibebaskan dari biaya, sedangkan pada lantai bawah diperuntukan ruang Pos Kesehatan, sebagai kegiatan amal membantu kesehatan masyarakat dan jamaah masjid.
Pengurus
Masjid juga menjelaskan pada bangunan masjid di bagian basemant terdapat ruangan yang luas yang bisa digunakan untuk
kegiatan yang bersifat ibadah, seperti pengajian ataupun ceramah keagamaan,
bahkan untuk acara akad nikah bisa dilakukan namun untuk kegiatan resepsi
pernikahan sampai saat penulis berdialog tidak boleh dilakukan, dikarenakan hal
tersebut bisa merubah tujuan dari pengelolaan masjid yang sifatnya ibadah,
dikatakan oleh salah seorang Pengurus Masjid.
SubhanaAllah
alangkah mulia pengelola masjid dalam hati penulis, disaat kondisi ini masih
terdapat pengurus masjid yang bertahan dengan fungsi masjid sebenarnya, karena
penulis melihat pada beberapa pengurus masjid saat ini terdapat yang berkeinginan
membangun suatu ruang besar di area masjid yang bisa digunakan juga untuk acara
resepsi..
Semoga Allah
Yang Maha ‘Adzim memberikan hidayahNya pahala yang berlimpah kepada Pengurus
masjid Agung At-taqwa Balikpapan.
Dengan
keindahan seni ukir dan ornamen yang terdapat pada bangunan Masjid Agung At-Taqwa
Balikpapan telah memberikan kesan tersendiri bagi pengunjung masjid yang akan
melakukan ibadah.
Semoga
perjalanan mengunjungi masjid yang terletak di jalan Jenderal Sudirman
Balikpapan, bersebelahan dengan gedung BRI Balikpapan dan persis berhadapan
dengan “Pasar Klandasan” yang
mempunyai pemandangan laut kota Balikpapan yang indah, dapat menjadikan suatu
literatur bagi pembaca yang beragama Islam untuk bisa berkunjung kesana.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Hari akhirat, serta tetap menunaikan shalat,
mengeluarkan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah, maka
merelah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (Al Quran, Attaubah:18)
WiNanda-0214
Kamis, 13 Februari 2014
MENGENANG WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.
MENGENANG SATU TAHUN WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.,
AYAHANDA DAN GURUKU
Saat ini 13 Februari 2014 adalah waktu bersejarah bagi kami, tak
terasa satu tahun Buya KH. Ismael Hassan SH, wafat dan dimakamkan di di
Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata Jakarta, pada tanggal 13 Februari
2013 satu tahun yang lalu, Buya menghembuskan nafas terakhir dihadapan keluarga
dan sahabat, baik dari kalangan umum maupun pendidikan yang pada akhir
kehidupan merupakan tempat menghabiskan waktu kesehariannya.
Buya KH. Ismael Hassan SH., menderita sakit
penyempitan arteri pada kedua kakinya sejak tahun 2006, namun semua tidaklah
banyak diketahui keluarga dan sahabatnya, Buya masih tetap menjalankan
aktifitas keseharian dengan amanah, sampai waktunya di pagi hari saat menjelang
adzan shubuh berkumandang tanggal 13 Februari 2013 beliau masuk kamar operasi
dan sekitar jam 06.00 pagi Buya keluar kamar operasi dengan mengucapkan syukur
kepada Illahi Rabbi dan memberikan senyum teduhnya, kemudian memasuki ruang
ICCU Rumah Sakit OMNI Pulomas.
Disaat matahari pagi memancarkan sinar tanggal 13
Februari, segenap keluarga dan sahabat mulai berkunjung menjenguk Buya untuk berjumpa
dengan orang yang mereka cintai, Buya tampak tegar menerima kedatangan tamunya
bahkan masih sempat memberikan beberapa wejangan sebagaimana layaknya Buya
dikala sehat, sampai saat setelah adzan dzuhur berkumandang kondisi Buya mulai
menurun, akhirnya beberapa saat setelah adzan isya berkumandang beliau
dipanggil menghadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta. InnalIllahi Wa inna Ilaihi
rojiun.
Perjalanan hidup Buya KH. Ismael Hassan SH., yang
penuh suka dan duka telah memberikan banyak arti untuk memahami dan merenungkan
betapa perjalanan hidup seseorang perlu diisi kebaikan dan manfaat bagi
sesamanya. Buya telah banyak memberikan contoh dan panutan yang baik, gambaran
perjalanan hidup dari seorang yang sederhana, pejuang kemerdekaan Negara
Republik Indonesia, Pejuang Pendidikan Berkarakter sampai menjadi seorang Tokoh Nasional.
Diakhir kehidupan Buya, mulai dari sakit yang
dideritanya telah memberikan contoh suatu pendidikan dan pelajaran mengenai
keikhlasan seseorang dan juga bagaimana kesiapan untuk menggapai ridho Illahi
dalam hembusan nafas terakhir, disaat malaikat diperintahkan oleh Allah
Subhanahu wata ’Alla untuk menjemputnya, kepasrahan karena ikhlas dan keindahan
disaat menjelang wafat Buya Ismael Hassan SH dapat dijadikan suatu pelajaran
bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.
Buya KH. Ismael Hassan SH. Dilahirkan tanggal 20 Juni 1926 Masehi,
di suatu desa terpencil di kaki Gunung
Kelabu Kanagarian Simpang Tonang, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera
Barat. Daerah yang terletak dibelantara Rimba Panti, hutan rimbun dalam deretan
Bukit Barisan Sumatera, sekitar 130 km arah utara kota Bukittinggi.
Dirumah yang sederhana di dekat areal persawahan,
dalam kehidupan yang serba sederhana Buya dilahirkan dari orangtua Hasan Pinto
Kari bin H. Moh. Nur seorang Guru Mengaji dan juga merupakan Tukang Kayu
didaerah itu, dengan ibunda Siti Fatimah binti Tuangku Mudo seorang ibu yang
sangat mencintai kehidupan keluarga dan anak-anaknya, Buya merupakan anak ke-11
dari 12 bersaudara, 3 orang saudara Buya meninggal dunia saat masih balita.
Kesembilan saudara Buya terdiri dari 3 wanita dan 6
laki-laki, jumlah yang sama dengan cucu langsung Buya 3 wanita dan 6 laki-laki.
Adapun saudara Buya adalah, Marahindi Hasan, Sjihabudin Hasan, Nursidah Hasan,
Mohamad Arif Hasan, Abdul Malik Hasan, Rohana Hasan, Abdul Muis Hasan, Ismael
Hassan, Rakiyah Hasan, enam orang diantaranya adalah berprofesi sebagai Guru
Agama, saat ini seluruh keluarga beliau telah berpulang kerahmatullah.
KH. Ismael Hassan SH, beliau biasa dipanggil dengan
sebutan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya, bahkan Presiden Soeharto semasa
hidupnya menyebut beliau Pak Kiayi, telah menghadap keharibaan Allah Yang Maha
Pencipta, pada tanggal 13 Februari 2013 jam 19.55 WIB (berdasarkan waktu
kedokteran) di RS OMNI Pulomas, dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam
Pahlawan Nasional Kalibata tanggal 14 Februari 2013 jam 11.55 WIB.
KH. Ismael Hassan SH., wafat meninggalkan istri Hj.
Anida Dahar binti H.M. Dahar yang juga putri dari seorang Guru Agama dengan
mempunyai 3 orang putra dan 9 cucu, Buya dimakamkan dengan upacara militer,
dimulai dari rumah duka Jalan Pulomas Kayu Putih, Jakarta Timur, dishalatkan di
Masjid Baabut Taubah Pulomas, masjid yang awalnya adalah sumbangan Yayasan Amal
Bhakti Muslim Pancasila (YABMP) sebuah masjid ukuran terbesar yang pertama kali
dibuat oleh YABMP dan itupun bisa dibangun dengan upaya Buya yang bertemu
langsung dengan Ketua YABMP Presiden Soeharto kala itu.
Saat pelaksanaan shalat jenazah yang dihadiri keluarga
dan sahabat beliau, serta para siswa, guru dan orangtua murid dari Yayasan
Pendidikan Attaubah Pulomas, Al-Azhar Rawamangun, Nurul Iman Jatinegara dan
pelayat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, memenuhi areal Masjid
Baabut Taubah Pulomas, sambutan keluarga disampaikan oleh putra beliau Widya Sananda,
dan sambutan dari Bapak Eddy Ruchiyat Shoheh Ketua Pembina Yayasan Masjid
Pulomas, serta Bapak Hariry Hadi Ketua Pembina YPI dan Yayasan Al-Azhar.
Langit yang semula cerah saat pelaksanaan shalat
jenazah Buya seketika berubah mendung, setelah usai shalat dilakukan upacara
penyerahan jasad Buya sebagai pejuang kemerdekaan yang memperoleh Bintang
Gerilya untuk diserahkan kepada Negara guna dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Nasional (TMPN) Kalibata.
Saat terjadinya penyerahan jasad beliau yang
diserahkan langsung oleh putra kedua beliau Widya Sananda kepada Negara, turun
hujan dengan deras seakan mengiringi perpisahan Buya dengan masjid dan lokasi
lembaga pendidikan At-Taubah tempat terakhir Buya melakukan aktifitas
kesehariannya, diantara turunnya hujan jasad beliau dimasukan dalam mobil
jenazah yang dilanjutkan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN)
Kalibata oleh TNI, dikarenakan beliau merupakan pejuang Kemerdekaan pada
wilayah Teritorial Front Sumatera.
Langit yang cerah tetapi tidak terlalu terik dengan
disertai angin semilir yang sangat kontras dengan saat penyerahan jenazah di
Masjid Pulomas, telah menyambut kedatangan jasad Buya KH. Ismael Hassan SH., di
areal pemakaman TMPN Kalibata dan saat dikeluarkan dan dijalankan dari mobil
jenazah jasad Buya disambut barisan siswa, Guru dan Orangtua murid Yayasan
Asrama dan Pendidikan Islam (YAPI) Al-Azhar Rawamangun, pada detik-detik memasuki areal pemakaman
dengan kondisi langit yang tidak terlalu terik matahari bahkan suasana terasa
sejuk, terdengar suara adzan Dzuhur dari Masjid didekat TMPN Kalibata, yang tak
sengaja mengiringi pemakaman jasad beliau, terasa suasana khidmat dan sejuk sebagaimana
keinginan beliau disaat menjelang Allah Yang Maha Kuasa memerintah malaikat
menjemputnya.
Allah Maha Besar dengan segala kehendakNya banyak
keinginan Buya dikabulkanNya, letak makam Buya KH. Ismael Hassan SH.,
dimakamkan persis bersebelahan dengan makam H. Tarmizi Taher mantan Menteri
Agama wafat satu hari sebelum beliau, merupakan sahabat, rekan perjuangan dan
juga merupakan Pembina YPI Al-Azhar, serta beberapa sahabat perjuangan tampak
dimakamkan disekitar tempat pemakaman Buya.
Setelah jasad beliau dimakamkan Bapak A.M. Fatwa yang
juga sahabat beliau dalam sambutannya mengatakan “KH. Ismael Hassan SH.,
merupakan pejuang yang tidak pernah menyerah, sebagai pejuang dalam kemerdekaan
Negara Republik Indonesia juga Pejuang Pendidikan, kita telah kehilangan putra
terbaik yang selalu amanah dalam melaksanakan tugas, arif dan bijaksana. Semoga
Allah Yang Maha Pemurah menjaga dan memberikan tempat terbaik kepada beliau
dialam kuburnya”.
KH. Ismael Hassan SH., telah wafat dan beliau
diberikan tempat pemakaman sesuai keinginan beliau, di pemakaman yang terjaga
asri, depan taman, dekat para sahabat dan dekat masjid yang selalu
mengumandangkan adzan disaat menjelang sholat.
Yaa ayyatuhaa
(al)nnafsu (al)muthma-innah, irji”ii ilaa Rabbika raadiyatan mardhiyyah,
fa(u)dkhulii fii ‘ibaadii, wa(u)dkhulii jannatii.
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
dan di ridhai, lalu masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke
dalam surgaKu. (QS:89 ayat 27-30).
Selamat jalan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya KH.
Ismael Hassan SH., amal dan ajaran Buya telah memberikan banyak manfaat dalam
kehidupan kami dan merupakan contoh untuk dapat kami jadikan sebagai suri
tauladan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya, melipatgandakan amal
kebaikan dan amal karya bakti semasa hidup Buya, menjadikan Buya termasuk
golongan khusnul khatimah dan InsyaAllah memperoleh rumah terbaik disyurga,
Amin. InnalIllahi Wa inna Ilaihi rojiun. "Allahumma Anta Robbii laa Ilaaha illa Anta, kholaqtanii wa ana 'Abduka, wa ana 'ala 'Ahdika, wa wa'dika mastatho'tu, A'udzu bika min syarri maa shana'tu, Abuu-u laka bini'matika 'Alayya, wa Abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua-laa yaghfirudz-dzunuuba Illa Anta."
WiNanda.13021014
Langganan:
Postingan (Atom)














