Selasa, 27 Mei 2014

journey: DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM

journey: DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM: DJKN TURUT SERTA DALAM KEBERHASILAN PT. INALUM MENJADI BMN “Pemerintah selalu berkomitmen terhadap kelangsungan dan peningkatan usaha ...

Rabu, 12 Maret 2014

DJKN, PROSES PENGAMBILALIHAN PT INALUM

DJKN TURUT SERTA DALAM KEBERHASILAN PT. INALUM MENJADI BMN

“Pemerintah selalu berkomitmen terhadap kelangsungan dan peningkatan usaha PT Inalum”. Hal tersebut disampaikan Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara dalam dialog dengan jajaran direksi dan karyawan PT Inalum, Jumat 11 Oktober 2013 di Aula Pertemuan PT Inalum Kuala Tanjung, Sumatera Utara.

Adalah merupakan suatu prestasi yang dapat dibanggakan dari Tim Negoisasi Pengambilalihan PT Inalum yang telah berhasil melakukan akuisisi kepemilikan PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) yang semula sebagian besar sahamnya dimiliki oleh konsorsium perusahaan Jepang dalam Nippon Asahan Alumunium (NAA), menjadi 100 % sepenuhnya milik pemerintah Indonesia, dengan keberhasilan itulah PT Inalum merupakan bagian dari Barang Milik Negara yang dikelola oleh BUMN.

Keberhasilan pengalihan hak atas perusahaan pengolah alumunium dan pembangkit tenaga listrik air melalui jalan yang berliku dan telah diupayakan sejak beberapa tahun sebelum berakhirnya maka kontrak kerja PT INALUM yang dikelola sebagian besar oleh konsorsium perusahaan Jepang, namun pada tanggal 1 November 2013 Tim Pemerintah Indonesia telah berani mengambil langkah yang memang sudah selayaknya yaitu memutuskan untuk melakukan termination agreement (pengakhiran kerjasama), karena selama 30 tahun pengelolaan Inalum yang berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam Master Agreement for the Asahan Hydroelectric and Aluminium Project (MA) pada 7 Juli 1975, kontrak kerjasama berakhir pada 31 Oktober 2013.

Proses pengambilalihan saham PT Inalum tidaklah berjalan cepat, walau berakhir akhir Oktober 2013, namun proyek kerjasama Pemerintah Indonesia dan investor Jepang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium (NAA) yang mempunyai saham terbesar 58,88 % sedangkan pemerintah Indonesia 41,12 %, masih berkeinginan sekali untuk melanjutkan kerjasama kegiatan ini, karena terkait dengan adanya proyek peleburan alumunium yang terbesar di Asia Tenggara ini telah memberikan dampak keuntungan yang menggiurkan bagi kelangsungan industri milik perusahan Jepang tersebut.



Dengan melakukan upaya negoisasi yang terus menerus, yang dilakukan Tim negoisator pemerintah Indonesia dipimpin oleh Bapak Mohamad Suleman (M.S.) Hidayat Menteri Perindustrian dengan anggota antara lain DJKN Kementerian Keuangan, akhirnya dapat memberikan hasil kesepakatan untuk menyerahkan PT Inalum kepada Indonesia, namun bukan Jepang namanya bila perundingan bisa cepat selesai, Nilai Buku PT Inalum menjadi kendala, karena berdasarkan audit BPKP sekitar US$ 424 juta tapi berdasarkan penilaian NAA Jepang mencapai angka 626, 1 juta.

Tim Negoisasi pengambilalihan PT Inalum, melakukan pertemuan dengan NAA Jepang di Singapura 12 November 2013, “Pertemuan adalah dalam rangka mencapai titik temu harga buku PT Inalum, pemerintah Indonesia menginginkan harga pengambilalihan yang lebih rendah dan jika proses negoisasi tidak mendapat titik temu maka pemerintah akan mengambil langkah membawa ke lembaga arbitase internasional”. Demikian disampaikan Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara yang terlibat dalam Tim Negoisasi di Kantor Kementerian Keuangan 11 November 2013.

Pada pertemuan di singapura inilah Tim Negoisasi bersama NAA Jepang telah berhasil mencapai kesepakatan yaitu pengakuisisian PT Inalum kepada Pemerintah Indonesia dengan nilai buku sebesar US$ 556 juta, selanjutnya penandatanganan pengambilalihan Termination Aggreement dilakukan pada tanggal 9 Desember 2013 dan proses pengambilalihan akan selesai pada tanggal 19 Desember 2013, setelah transfer dana senilai kesepakatan diterima pihak NAA Jepang di Tokyo.

Dengan berakhirnya upaya Tim Negoisasi dan hasil kesepakatan tersebut, melalui persetujuan DPR tentunya, maka pemerintah Indonesia dapat melakukan pembayaran senilai yang disepakati, untuk menjadikan PT Inalum yang terletak pada hamparan wilayah strategis proyek asahan dan meliputi 10 Kabupaten dan kotamadya di Provinsi Sumatera Utara telah menjadi milik sepenuhnya Pemerintah Indonesia, menjadi bagian Barang Milik Negara (BMN).

Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan, pada acara Economic Challenges di Metro TV menyatakan “memberikan apresiasi yang tinggi kepada Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kemenkeu dan Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, atas upaya kerja keras dalam pengambila alihan PT Inalum ketangan pemerintah Indonesia”. Sehingga PT Inalum telah resmi menjadi bagian aset negara dan diresmikan sebagai BUMN ke 141.

BEBERAPA ALASAN PT. INALUM MENJADI BMN

1.   Industri alumunium mempunyai prospek yang baik, dengan meningkatnya industrilisasi maka kebutuhan akan alumunium akan semakin meningkat terutama permintaan di pasar domestik.
2.   PT Inalum merupakan satu-satunya industri penghasil alumunium ingot di dalam negeri, yang bisa digunakan untuk peningkatan industri terbarukan, selama ini hasil dari PT Inalum sekitar 70% dikirim ke Jepang dan sisanya untuk pasar domestik Indonesia, dengan kemampuan produksi saat ini sekitar 240 ribu ton setahun.
3.   PT Inalum merupakan salah satu industri alumunium smelting dengan profitibilas yang tinggi untuk industri alumunium secara keseluruhan, sehingga bisa menghasilkan suatu nilai tambah.
4.   PT Inalum merupakan satu-satunya perusahaan peleburan alumunium di asia Tenggara yang memiliki fasilitas lengkap seperti pabrik carbon plant, reduction plant dan casting plant, yang dapat dikembangkan lebih lagi menjadi nilai tambah.

5.  Bagian dari PT Inalum yaitu PLTA Sigura-gura merupakan pemasok tenaga listrik yang besar yang bisa sangat bermanfaat untuk peningkatan kehidupan dan kesejahteraan Indonesia khususnya Provinsi Sumatera Utara.
6.  PT Inalum dapat menjadi suatu kegiatan menuju intergrasi Industrialisasi Indonesia, untuk menjadikan suatu nilai tambah guna kepentingan industri terbarukan di Indonesia, pengembangan industri bauksit dan klaster industri hilir alumunium akan lebih mudah dilakukan, dikatakan oleh Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri.
7.   PT Inalum juga secara langsung sudah dapat ditangani oleh putar-putri Indonesia secara lansung, dengan pengalaman selama 30 tahun akan bisa menjalankan perusahaan secara profesional.
8. PT Inalum bisa memberikan keuntungan dividen dan peningkatan pembayaran pajak serta multiplier effect di berbagai sektor, dikatakan oleh Bapak Hadiyanto Dirjen kekayaan Negara.

SEJARAH SINGKAT PT INALUM.

Perusahaan ini berawal dari kegagalan pemerintah Belanda menghasilkan tenaga listrik dari Danau Toba. Ini yang membuat pemerintah Indonesia membuat pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sungai tersebut.
Pada 1972, pemerintah menerima laporan studi kelaikan proyek PLTA dan Aluminium Asahan dari sebuah perusahaan konsultan Jepang, Nippon Koei. Laporan tersebut, menyebutkan bahwa PLTA layak untuk dibangun dengan sebuah peleburan aluminium sebagai pemakai utama dari listrik yang dihasilkan dari PLTA Asahan tersebut.

Pemerintah Republik Indonesia dan 12 perusahaan penanam modal dari Jepang yaitu  Sumitomo Chemical Company Ltd., Sumitomo Shoji Kaisha Ltd., Nippon Light Metal Company Ltd., C Itoh & Co., Ltd., Nissho Iwai Co., Ltd., Nichimen Co., Ltd., Showa Denko K.K., Marubeni Corporation, Mitsubishi Chemical Industries Ltd., Mitsubishi Corporation, Mitsui Aluminium Co., Ltd., dan Mitsui & Co., Ltd., yang membentuk gabungan perusahaan pada 25 November 1975 di Tokyo dengan nama Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd (NAA), telah menandatangani perjanjian induk untuk PLTA dan Pabrik Peleburan Aluminium Asahan yang kemudian dikenal dengan Proyek Asahan, tanggal 7 Juli 1975 di Tokyo. 

Pada 6 Januari 1976, Inalum, sebuah perusahaan patungan antara pemerintah Indonesia dan Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd, didirikan di Jakarta. Inalum adalah perusahaan yang membangun dan mengoperasikan Proyek Asahan, sesuai dengan Perjanjian Induk.
Perbandingan saham antara pemerintah Indonesia dan Nippon Asahan Aluminium Co., Ltd., (NAA) pada saat perusahaan didirikan adalah saham pemerintah sebesar 10 persen dan saham NAA 90 persen. Pada Oktober 1978, perbandingan tersebut menjadi 25 persen dan 75 persen dan sejak Juni 1987 menjadi 41,13 persen dan 58,87 persen. Sejak 10 Februari 1998 menjadi 41,12 persen dan 58,88 persen.

Untuk melaksanakan ketentuan dalam perjanjian induk, Pemerintah Indonesia kemudian mengeluarkan SK Presiden No. 5/1976 yang melandasi terbentuknya Otorita Pengembangan Proyek Asahan sebagai wakil Pemerintah yang bertanggung jawab atas lancarnya pembangunan dan pengembangan Proyek Asahan.
Inalum sebagai pelopor dan perusahaan pertama di Indonesia yang bergerak dalam bidang industri peleburan aluminium dengan investasi sebesar 411 miliar yen.
Konsorsium ini beranggotakan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), yang mewakili pemerintah Jepang dan mendapat porsi 50 persen saham. Sisanya dimiliki 12 perusahaan swasta Jepang. Menurut perjanjian, kontrak kerja sama pengelolaan Inalum berakhir pada 31 Oktober 2013.

PERJALANAN AKUISASI INALUM TAHUN 2013:

26 Februari 2013, Dirjen Kekayaan Negara berkunjung ke Inalum.
Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara melaksanakan kunjungan kerja ke Pabrik PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang berlokasi di Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan, sekaligus melakukan peninjauan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura, di Desa Paritohan, Kecamatan Porsea, Kabupatem Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, didampingi oleh Bapak Agus Rijanto Sedjati Sekretaris DJKN dan Bapak Arif Burhanudin Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan .

11 Oktober 2013, Dirjen Kekayaan Negara berkunjung kembali ke Inalum
Bapak Hadiyanto Direktur Jenderal Kekayaan Negara melakukan pertemuan dengan jajaran direksi dan karyawan PT Inalum, Jumat 11 Oktober 2013 di PT Inalum Kuala Tanjung, Sumatera Utara untuk meneguhkan komitmen terhadap seluruh karyawan akan keberlangsungan PT Inalum. Dalam pertemuan itu hadir, Bapak Agus Tjahajana Wirakusumah selaku Direktur Jenderal Kerja sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian, dan Bapak Herman Hidayat Staf Ahli Bidang Investasi dan Sinergi Kementerian BUMN. Turut hadir dalam acara tersebut Bapak Dedi Syarif Usman Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan, Bapak Arif Baharudin Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (PUSHAKA) dan Bapak Hady Purnomo Kepala Kanwil DJKN Sumatera Utara.

Bapak Hadiyanto mengatakan: “Komitmen pemerintah akan terus berlanjut bahkan akan ditingkatkan dari apa yang sudah dicapai sekarang. Pemerintah ingin memastikan kelanjutan usaha, keberlangsungan usaha, dan operasional perusahaan harus terus berlanjut bahkan meningkat”.

17 Oktober 2013, Rapat di Gedung Mandiri
Bapak Dahlan Iskan selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  menyatakan: "Soal Inalum, nanti ada rapat dengan Menteri Koordinator Perekonomian, BUMN ikut saja keputusannya. Apakah akan jatuh di bawah BUMN atau Menkeu, kalau jatuh di BUMN itu memang 100 persen milik Indonesia dan pengelolaan yang lain-lain di bawah BUMN, sehingga evaluasi manajemennya sama seperti BUMN lain. Kalau di Menkeu mungkin kelebihannya adalah bila ada keperluan penyelesaian akibat transkasi akan lebih cepat karena langsung dengan persetujuan Menkeu, tapi yang terpenting adalah PT Inalum dapat menjadi milik Indonesia”. 

25 Oktober 2013, Pemutusan kontrak tertunda,
Penundaan acara penandatanganan pengakhiran kerjasama dengan Jepang yang awalnya direncanakan berlangsung hari Jumat 25 Februari 2013, dikarenakan belum terselesaikan proses pembahasan antara pemerintah dengan Komisi XI.
"Diundur beberapa hari. Yang penting kepastian atau kesepakatan mengenai harga sudah disetujui dan Inalum nanti jadi di bawah naungan Kementerian BUMN, Direksi Jepangnya akan diganti," dikatakan oleh Bapak MS Hidayat.

30 Oktober 2013, Rapat dengan DPR yang sedang reses.
Pemerintah kembali melakukan rapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait pengambil alihan PT Nippon Asahan Alumunium atau Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) dan membahas persetujuan anggaran pengambilalihan Inalum, "DPR sedang masa reses, tapi karena kepedulian kita kepada aset negara maka kita kembali dari daerah untuk melakukan rapat ini," kata Ketua Komisi XI Olly Dondokambe

Rapat dengan DPR dihadiri oleh Menteri Keuangan Chatib Basri, Dirjen Pajak Fuad Rachmany, Dirjen Kerjasama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahyana, Deputi Kementerian BUMN, dan beberapa pejabat lain dari kementerian terkait.
"Ini bukan persoalan jual beli. Pemerintah mau ambil alih atau tidak. Kalau pemerintah tidak mau ambil alih, Jepang akan perpanjang. Jepang mati-matian mau perpanjang," tegas Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri saat melakukan rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.

Pemerintah berniat untuk mengambil alih saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) keseluruhan 100%, adalah bukan tanpa alasan. Dikarenakan selama 30 tahun, PT Inalum yang memproduksi aluminium dikuasai oleh Nippon Asahan Aluminium (NAA), Jepang maka seharusnyalah saat ini bangsa Indonesia untuk memulai pengelolaannya secara penuh dan yang akan memikirkan masa depan PT Inalum.
"Kami melihat putra putri Indonesia sudah sangat mampu menangani dan mengembangkan Inalum sendiri ke depan setelah memiliki pengalaman 30 tahun. Kedua, keikutsertaan kembali NAA ke dalam Proyek Asahan tidak diatur dalam master agreement," kata Bapak Chatib Basri saat Rapat Kerja Pembahasan Inalum diGedung DPR-RI.

11 November 2013, Rapat Tim Negoisasi di Kemenkeu.
Tim negosiasi pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum)  dijadwalkan  kembali bertemu dengan pihak Nippon Asahan Alumunium (NAA) di Singapura, Selasa 12 November 2013 besok.
Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, Bapak Hadiyanto yang juga terlibat dalam tim negosiasi menyatakan, pertemuan tersebut akan membahas  masalah selisih harga yang hingga saat ini masih mewarnai proses pengambilalihan 58,88 persen saham perusahaan Jepang itu yang telah diputuskan akan diberikan kepada Pemerintah Indonesia. 

"Betul, akan membahas perundingan yang belum mencapai titik temu masalah harga, jadi pertemuan nanti belum merupakan pertemuan final. Jika dalam pertemuan besok,  ada titik temu antara kedua belah pihak, maka akan segera ditindaklanjuti pemerintah sesuai kesepakatan. Selanjutnya dari hasil pertemuan besok dengan mereka (pihak Pemerintah/Swasta jepang), akan kita konsultasikan dengan Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri dan Menko Perekonomian Bapak Hatta Rajasa", dikatakan oleh Bapak Hadiyanto di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta. 
"Apabila terjadi kemungkinan permasalahan nilai aset dari PT Inalum tidak juga dapat diselesaikan melalui negosiasi, maka kita akan selesaikan di Pengadilan Arbitrase Internasional", dikatakan lebih lanjut oleh Bapak Hadijanto di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

27 November 2013, Menteri Perindustrian MS Hidayat.
Setelah beberapa kali berunding, pada 27 November 2013 tim Indonesia dan dari pihak Jepang akhirnya mencapai kesepakatan bahwa harga kompensasi atas proyek asahan yang akan diterima oleh PT Nippon Asahan Aluminium (NAA) sebesar USD556,7 juta.  Adapun tim Indonesia terdiri dari Dirjen Kerjasama Industri Internasional Kemenperin, Dirjen Kekayaan Negara Kemenkeu, Deputi PIP Bidang Perekonomian BPKP dan Direktur Peraturan Perpajakan II Ditjen Pajak Kemenkeu. Sedangkan dari pihak Jepang dihadiri oleh Ketua Tim Delegasi NAA bersama anggotanya serta perwakilan dari ministry of economy, Trade and Industry (METI). 

9 Desember 2013, Konsorsium Nippon ke Kemenperin pelapasan Inalum.
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) resmi menjadi milik Indonesia sebagai perusahaan badan usaha milik negara (BUMN). Penyerahan Inalum dilakukan dengan perjanjian pengakhiran master agreement dan sekaligus pengalihan seluruh saham yang dimiliki Nippon Asahan Aluminium kepada Pemerintah Indonesia.

Dalam proses penandatanganan dihadiri oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan Menteri Koordinator Perekomian Hatta Rajasa. 

Sementara dari pihak PT Inalum hadir Presiden Direktur Mikio Mizuguchi, para direktur, Nasril Kamaruddin, Harmon Yunaz, dan Sahala Hasoloan Sijabat, serta Komisaris Emmy Yuhassarie.
"Dengan perpindahan saham, mudah-mudahan Inalum bisa menjadi perusahaan multinasional yang baik," ujar Ketua Konsorsium Nippon Asahan Aluminium (NAA) Yoshiki Akamoto, di kantor Kementerian Perindustrian.

19 Desember 2013, Inalum menjadi BUMN ke 141.
Secara resmi mulai hari ini 19 Desember 2013, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) secara resmi telah menjadi bagian dari aset negara dan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang ke-141.
Dengan ditandatanganai akta jual beli PT. Inalum antara pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri BUMN Dahlan Iskan dan perwakilan investor Jepang dari Konsorsium NAA (Nippon Asahan Alumunium), maka resmi secara keseluruhan telah menjadi aset negara, aset bangsa Indonesia dan bukan lagi merupakan perusahaan gabungan dengan pihak pemerintah/swasta Jepang.

Acara penandatanganan akte tersebut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, BPKP dan Jajaran Direksi Inalum.
Menteri BUMN Dahlan Iskan secara langsung juga mengumumkan sekaligus menjelaskan bahwa untuk keberlangsungan PT Inalum saat ini masih tetap dilaksanakan kegiatannya oleh Para Direksi PT Inalum minus Dirut PT Inalum lama yang warganegara Jepang, sehingga posisi jabatan direksi Inalum tetap dipegang pejabat lama, sampai nantinya dilakukan perubahan atau pergantian melalui proses Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
"Hari ini baru final bahwa menjadi BUMN nanti akan RUPS ditentukan dirutnya. Dirut sekarang orang dalam jadi operasional nggak terganggu. RUPS bisa kapan saja. Dirut ditentukan RUPS," sebutnya.

30 Desember 2013, talkshow di METRO TV

Bapak Hadiyanto, Direktur Jenderal Kekayaan Negara mengikuti acara Economic Challenges mengambil topik Pengambilalihan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) ditayangkan pada 30 Desember 2013 pukul 21.00 WIB di MetroTV yang juga dihadiri oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Direktur Jenderal Kerja Sama Industri Internasional (Dirjen KII) Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana Wirakusumah dengan pembawa acara Suryopratomo.

Menteri BUMN Dahlan Iskan pada saat menjelaskan antara lain "Adanya keuntungan yang bisa dirasakan rakyat Indonesia dengan pengalihan kepemilikan Inalum, adalah nantinya PT Inalum akan bisa menyumbangkan kapasitas listriknya untuk wilayah Sumatera Utara yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat, serta kebutuhan akan alumunium di dalam negeri lebih bisa terjamin karena adanya suplai lansung dari PT Inalum yang telah menjadi milik bangsa Indonesia”.

Bapak Hadiyanto sebagai Dirjen KN mengatakan, "Negara Indonesia akan mendapat keuntungan yang jauh lebih besar dari kompensasi yang dibayar, nilai kas pada Inalum tersediadana sekitar 400 juta Dollar Amerika ditambah nilai inventori dan total nilai aset Inalum lebih dari 1 Milyar Dollar Amerika”. 
Bapak Agus Tjahajana Dirjen  KII Kemenperin antara lain menyatakan bahwa saat ini manajemen PT Inalum ada didalam penguasaan Kementerian BUMN.

Selanjutnya 
Bapak Hadiyanto Dirjen KN menyebutkan terkait status kepemilikan PT Inalum adalah merupakan aset negara karena dana nya berasal dari APBN dan dikelola oleh BUMN milik negara, sedangkan salah satu fungsi dari Kementerian Keuangan adalah melakukan investasi, kita yakin nantinya PT Inalum akan dapat memberi keuntungan baik terhadap dividen maupun pembayaran pajak dan akan meningkatkan multiplier effect di berbagai sektor”. Sebagai penutup Bapak Dahlan Iskan memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dirjen KN dan Dirjen KII yang telah bekerja keras dalam pengambilalihan PT Inalum.

Penyerahan PT Inalum ke pangkuan Indonesia itu baiknya kita syukuri (Komisi XI DPR-RI). Selamat atas keberhasilan Tim Negoisasi yang telah mengantarkan PT Inalum menjadi bagian dari asset negara Republik Indonesia.

Coming together is a beginning, keeping together is progress, working together is success. (Henry Ford)

WiNanda.
**dari berbagai sumber 


Sabtu, 22 Februari 2014

MASJID ATTAQWA BALIKPAPAN, KEIKHLASAN PENGELOLA


tampak Depan Masjid
Dalam kunjungan ke kota Balikpapan akhir November 2013, Bapak Widya Sananda sempat mengunjungi Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan di Jalan Jenderal Sudirman yang letaknya sejajar dengan Taman Bekupai kota Balikpapan.

Setelah shalat ashar penulis telah berjumpa dan berdialog dengan beberapa pengurus masjid, adanya penjelasan yang penuh historis tentang keberadaan masjid dan pengelolaannya dengan kondisi saat itu patut kiranya diberikan apresiasi terhadap Para Pengurus masjid tersebut.


Masjid At-Taqwa Balikpapan yang awalnya didirikan ditepi pantai yang sekarang dikenal “Pasar Klandasan Ulu” Kecamatan Balikpapan Kota, dibangun pada tahun 1940an merupakan suatu tempat ibadah muslim di kota Balikpapan.

Pendiri awal masjid At-Taqwa merupakan beberapa masyarakat yang beragama Islam yang tinggal di sekitar kota Balikpapan, antara lain Habib Ghasim Bahasim, Habib Ali Assegaf, H. Abdul Malik, H. Kiai Kintang, H. Bahrum, H. Abdul Ghani, H. Abdul Ramli, H. Sulaiman, H. Asnawi Arbain, H. Tharmiji Abbas, H. Abdul Hasan dan lainnya, sebagaimana yang ditulis oleh pengurus masjid saat berjumpa dengan penulis. Namun pada waktu perang dunia ke-2 (1946) masjid sempat dibom tentara sekutu dan bangunannyapun luluh lantak .

Akibat porak-porandanya bangunan masjid tersebut, maka dengan inisiatif masyarakat kota Balikpapan pada tahun 1950 dibangun kembali bangunan masjid, namun untuk menghindari terjadinya abrasi pantai lokasinya dipindahkan ke wilayah daratan sebelah utara yang jaraknya beberapa ratus meter didepannya, sebagaimana letaknya seperti sekarang ini dengan nama Masjid Jami At-Taqwa Balikpapan.

Pada tahun 1970an dan tahun 1990 Masjid At-Taqwa dilakukan renovasi sehingga semula bernama Masjid Jami berubah menjadi Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan. Selanjutnya dengan upaya pengurus masjid membentuk Panitia Pembangunan Masjid pada tahun 2004 dengan pimpinan H.M. Roem Arbain, H. Amirullah Usman, H. Muhammad Idrus, H.M. Yususf Sabran dan lainnya, telah mendirikan bangunan  masjid yang megah dengan area bangunan yang diperluas dan dipercantik seperti yang tampak megah berdiri saat ini.

Disaat penulis melaksanakan ibadah sholat dzuhur dan ashar di Masjid yang megah ini, terasa kenikmatan kenyamanan melakukan ibadah didalam masjid, dikarenakan luas masjid dan interior yang megah, diiringi dengan disain bangunan yang memberikan ruang udara yang baik melalui ventilasi jendela yang besar, terasa ingin berlama-lama berada didalam ruang masjid ini, tanpa terasa pelaksanaan ibadahpun semakin khusyu. SubhanAllah wa bi hamdi.
“Barang siapa membangun masjid untuk Allah karena mengharap ridhaNya, maka Allah akan membangunkan untuknya bangunan seperti masjid yang dibangun di syurga.” (H.R. Ahmad)

Kemegahan Masjid Agung At-Taqwa akan tampak bila berjalan menyusuri jalan Jenderal Sudirman kota Balikpapan, dengan luas masjid sekitar 5.268 m2 yang terdiri dari 3 lantai bangunan serta adanya selasar yang cukup luas, sehingga dapat menampung sekitar 3.800 jamaah lebih. Adanya halaman penunjang dan taman yang cukup asri, disertai adanya beberapa bangunan penunjang seperti lapangan parkir yang luas, ruang sekretariat dan beberapa bangunan tempat aktifitas pendidikan dan pembelajaran, telah memberikan kesan tersendiri dan menjadikan penulis kagum akan masjid ini.

Pengurus Masjid At-Taqwa Kota Balikpapan silih berganti, untuk periode 2012 - 2015 Pengurus Masjid adalah H. Suwandi, H. Syahrani, H. Ramli Abbas dan lainnya. "Saat ini pengurus mempunyai suatu rencana kerja untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah melalui pemeliharaan dan perbaikan beberapa tempat agar Masjid At-Taqwa semakin indah dan nyaman bagi pengunjung yang akan melaksanakan ibadah di masjid ini", demikian dikatakan salah seorang pengurus masjid kepada penulis.

Saat mengelilingi area masjid, penulis semakin kagum terhadap rancangan dan tata kelola pengurus masjid, banyak hal yang membuat penulis perlu memberikan apresiasi terhadap Pengelola Masjid Agung At-taqwa Balikpapan ini, terutama adalah dengan dibangunnya beberapa lembaga pendidikan terutama TK TPA yang letaknya dibelakang mimbar masjid, telah membuat penulis terkagum dan terharu, di lembaga pendidikan ini siswa diajarkan bagaimana bisa membaca dan memahami Al-Qur’an yang dibimbing oleh beberapa orang Guru yang kami lihat penuh dengan keikhlasan dan kesabaran.

Keharuan semakin terasa saat penulis berbincang dengan beberapa Guru pembimbing TK TPA Masjid At-Taqwa ini, dengan dedikasi tinggi mereka telah membimbing siswa dengan sabar dan penuh keilkhlasan, setiap siswa yang belajar hanya dikenai dana bimbingan sebesar Rp. 50.000,- persiswa setiap bulan bahkan sebagian dibebaskan dari biaya karena dari keluarga tidak mampu, dengan jumlah siswa yang ada berbanding jumlah pembimbing honorarium yang mereka terima tidaklah sebanding dengan pengabdian mereka. Namun dari peninjauan penulis sebagian siswa adalah terdiri dari keluarga mampu yang diantar jemput dengan kendaraan mobil, namun pengelola TK TPA tetap memberikan bimbingan yang sama.


Penulis dapat merasakan betapa besar pengabdian dari pembimbing TK TPA ini, bila dibandingkan dengan pembimbing yang sama di Jakarta pada beberapa sekolah yang penulis ketahui, sangatlah berbeda tingkat pengabdian yang mereka lakukan, terutama bila dikaitkan dengan honorarium yang diperoleh. Bahkan prestasi dari TK TPA Masjid At-Taqwa ini tidaklah kalah dari TPA yang ada di kota besar lainnya, yaitu pernah menjadi juara umum lomba baca Al-Qur’an tingkat SD-TPA se Balikpapan Tahun 2011.

Allah Maha Besar, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, saat berdialog dengan salah satu pembimbing penulis sempat menitikkan air mata, dikatakan bahwa terdapat Pembimbing yang baru saja pulang pergi haji ke Mekkah dengan menggunakan ONH Plus dan dibiayai sepenuhnya oleh orangtua siswa yang dibimbingnya, sedangkan biaya ONH Plus yang penulis ketahui adalah sekitar U$ 8500 dan bila dikalikan dengan nilai rupiah hampir mendekati angka Rp. 100 juta. SubhanaAllah.  
“Fabiayyi ‘ala i Rabbikuma tukadziban...”

Tak terbayangkan seorang yang sederhana namun dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho Allah dalam memberikan bimbingan membaca Al-Qur’an, telah diberikan anugerah Illahi dapat berkunjung ke Mekkah Rumah Allah dengan perjalanan yang istimewa dan tidak mengeluarkan biaya apapun, inilah rahmat Allah Yang Maha Pemurah yang telah membuat penulis terharu terhadap bentuk keikhlasan dan kemurahan hati orangtua siswa TK TPA.
Semoga Allah Yang Maha Kuasa melimpahkan rezeki yang berlimpah kepada orangtua yang telah memberikan sebagian rezekinya untuk memberangkatkan haji Pembimbing tersebut.

Saat berdialog dengan rasa keharuan, dikatakan oleh pembimbing tersebut bahwa ini merupakan suatu kejadian ini tidak akan pernah terpikirkan olehnya, para pembimbing disini bekerja semata-mata keikhlasan dan memohon ridha Allah, mereka tidak terpikirkan untuk mendapatkan imbalan lainnya kecuali apa yang mereka peroleh dari pengelola,  prinsip mereka apabila memang dalam perjalanan pemberian bimbingan terdapat pembimbing yang merasa tidak tercukupi dari honorarium yang diterima dipersilahkan untuk mencari di luar kegiatan yang ada.
Namun Allah Yang Maha SegalaNya telah memberikan karuniaNya kepada yang dipilihNya terhadap siapa saja yang mempunyai keikhlasan dalam membimbing untuk menjadikan dapat membaca Al-Qur’an akan diberikan suatu kenikmatan baik di dunia maupun di Akhirat, Janji Allah adalah Pasti.
“Innaka la tukhliful mi’ad”.

Dalam lingkungan Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan juga terdapat makam pendiri pertama masjid tampak ter-urus dengan asri, letaknya berdekatan dengan Gedung TK-TPA. Disebelah kiri makam saat penulis berjalan tampak adanya garasi mobil jenazah yang bisa digunakan oleh keluarga jamaah masjid tanpa biaya apapun. Pada bagian depan masjid disamping sebelah kiri terdapat bangunan dua lantai yang diperuntukan kegiatan pendidikan Madrasah Diniyyah Plus pada lantai atas, yang sebagian siswanya adalah dari keluarga kurang mampu sehingga dibebaskan dari biaya, sedangkan pada lantai bawah diperuntukan ruang Pos Kesehatan, sebagai kegiatan amal membantu kesehatan masyarakat dan jamaah masjid.

Pengurus Masjid juga menjelaskan pada bangunan masjid di bagian basemant terdapat ruangan yang luas yang bisa digunakan untuk kegiatan yang bersifat ibadah, seperti pengajian ataupun ceramah keagamaan, bahkan untuk acara akad nikah bisa dilakukan namun untuk kegiatan resepsi pernikahan sampai saat penulis berdialog tidak boleh dilakukan, dikarenakan hal tersebut bisa merubah tujuan dari pengelolaan masjid yang sifatnya ibadah, dikatakan oleh salah seorang Pengurus Masjid.

SubhanaAllah alangkah mulia pengelola masjid dalam hati penulis, disaat kondisi ini masih terdapat pengurus masjid yang bertahan dengan fungsi masjid sebenarnya, karena penulis melihat pada beberapa pengurus masjid saat ini terdapat yang berkeinginan membangun suatu ruang besar di area masjid yang bisa digunakan juga untuk acara resepsi..
Semoga Allah Yang Maha ‘Adzim memberikan hidayahNya pahala yang berlimpah kepada Pengurus masjid Agung At-taqwa Balikpapan.

Dengan keindahan seni ukir dan ornamen yang terdapat pada bangunan Masjid Agung At-Taqwa Balikpapan telah memberikan kesan tersendiri bagi pengunjung masjid yang akan melakukan ibadah.
Semoga perjalanan mengunjungi masjid yang terletak di jalan Jenderal Sudirman Balikpapan, bersebelahan dengan gedung BRI Balikpapan dan persis berhadapan dengan “Pasar Klandasan” yang mempunyai pemandangan laut kota Balikpapan yang indah, dapat menjadikan suatu literatur bagi pembaca yang beragama Islam untuk bisa berkunjung kesana.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhirat, serta tetap menunaikan shalat, mengeluarkan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah, maka merelah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al Quran, Attaubah:18)



MASJID AGUNG AT-TAQWA, KOTA BALIKPAPAN


WiNanda-0214

Kamis, 13 Februari 2014

MENGENANG WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.


MENGENANG SATU TAHUN WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.,
AYAHANDA DAN GURUKU


Saat ini 13 Februari 2014 adalah waktu bersejarah bagi kami, tak terasa satu tahun Buya KH. Ismael Hassan SH, wafat dan dimakamkan di di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata Jakarta, pada tanggal 13 Februari 2013 satu tahun yang lalu, Buya menghembuskan nafas terakhir dihadapan keluarga dan sahabat, baik dari kalangan umum maupun pendidikan yang pada akhir kehidupan merupakan tempat menghabiskan waktu kesehariannya.

Buya KH. Ismael Hassan SH., menderita sakit penyempitan arteri pada kedua kakinya sejak tahun 2006, namun semua tidaklah banyak diketahui keluarga dan sahabatnya, Buya masih tetap menjalankan aktifitas keseharian dengan amanah, sampai waktunya di pagi hari saat menjelang adzan shubuh berkumandang tanggal 13 Februari 2013 beliau masuk kamar operasi dan sekitar jam 06.00 pagi Buya keluar kamar operasi dengan mengucapkan syukur kepada Illahi Rabbi dan memberikan senyum teduhnya, kemudian memasuki ruang ICCU Rumah Sakit OMNI Pulomas.

Disaat matahari pagi memancarkan sinar tanggal 13 Februari, segenap keluarga dan sahabat mulai berkunjung menjenguk Buya untuk berjumpa dengan orang yang mereka cintai, Buya tampak tegar menerima kedatangan tamunya bahkan masih sempat memberikan beberapa wejangan sebagaimana layaknya Buya dikala sehat, sampai saat setelah adzan dzuhur berkumandang kondisi Buya mulai menurun, akhirnya beberapa saat setelah adzan isya berkumandang beliau dipanggil menghadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta. InnalIllahi Wa inna Ilaihi rojiun.

Perjalanan hidup Buya KH. Ismael Hassan SH., yang penuh suka dan duka telah memberikan banyak arti untuk memahami dan merenungkan betapa perjalanan hidup seseorang perlu diisi kebaikan dan manfaat bagi sesamanya. Buya telah banyak memberikan contoh dan panutan yang baik, gambaran perjalanan hidup dari seorang yang sederhana, pejuang kemerdekaan Negara Republik Indonesia, Pejuang Pendidikan Berkarakter  sampai menjadi seorang Tokoh Nasional.

Diakhir kehidupan Buya, mulai dari sakit yang dideritanya telah memberikan contoh suatu pendidikan dan pelajaran mengenai keikhlasan seseorang dan juga bagaimana kesiapan untuk menggapai ridho Illahi dalam hembusan nafas terakhir, disaat malaikat diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata ’Alla untuk menjemputnya, kepasrahan karena ikhlas dan keindahan disaat menjelang wafat Buya Ismael Hassan SH dapat dijadikan suatu pelajaran bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.  

Buya KH. Ismael Hassan SH. Dilahirkan tanggal 20 Juni 1926 Masehi, di suatu desa terpencil  di kaki Gunung Kelabu Kanagarian Simpang Tonang, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Daerah yang terletak dibelantara Rimba Panti, hutan rimbun dalam deretan Bukit Barisan Sumatera, sekitar 130 km arah utara kota Bukittinggi.

Dirumah yang sederhana di dekat areal persawahan, dalam kehidupan yang serba sederhana Buya dilahirkan dari orangtua Hasan Pinto Kari bin H. Moh. Nur seorang Guru Mengaji dan juga merupakan Tukang Kayu didaerah itu, dengan ibunda Siti Fatimah binti Tuangku Mudo seorang ibu yang sangat mencintai kehidupan keluarga dan anak-anaknya, Buya merupakan anak ke-11 dari 12 bersaudara, 3 orang saudara Buya meninggal dunia saat masih balita.

Kesembilan saudara Buya terdiri dari 3 wanita dan 6 laki-laki, jumlah yang sama dengan cucu langsung Buya 3 wanita dan 6 laki-laki. Adapun saudara Buya adalah, Marahindi Hasan, Sjihabudin Hasan, Nursidah Hasan, Mohamad Arif Hasan, Abdul Malik Hasan, Rohana Hasan, Abdul Muis Hasan, Ismael Hassan, Rakiyah Hasan, enam orang diantaranya adalah berprofesi sebagai Guru Agama, saat ini seluruh keluarga beliau telah berpulang kerahmatullah.

KH. Ismael Hassan SH, beliau biasa dipanggil dengan sebutan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya, bahkan Presiden Soeharto semasa hidupnya menyebut beliau Pak Kiayi, telah menghadap keharibaan Allah Yang Maha Pencipta, pada tanggal 13 Februari 2013 jam 19.55 WIB (berdasarkan waktu kedokteran) di RS OMNI Pulomas, dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata tanggal 14 Februari 2013 jam 11.55 WIB.

KH. Ismael Hassan SH., wafat meninggalkan istri Hj. Anida Dahar binti H.M. Dahar yang juga putri dari seorang Guru Agama dengan mempunyai 3 orang putra dan 9 cucu, Buya dimakamkan dengan upacara militer, dimulai dari rumah duka Jalan Pulomas Kayu Putih, Jakarta Timur, dishalatkan di Masjid Baabut Taubah Pulomas, masjid yang awalnya adalah sumbangan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YABMP) sebuah masjid ukuran terbesar yang pertama kali dibuat oleh YABMP dan itupun bisa dibangun dengan upaya Buya yang bertemu langsung dengan Ketua YABMP Presiden Soeharto kala itu.

Saat pelaksanaan shalat jenazah yang dihadiri keluarga dan sahabat beliau, serta para siswa, guru dan orangtua murid dari Yayasan Pendidikan Attaubah Pulomas, Al-Azhar Rawamangun, Nurul Iman Jatinegara dan pelayat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, memenuhi areal Masjid Baabut Taubah Pulomas, sambutan keluarga disampaikan oleh putra beliau Widya Sananda, dan sambutan dari Bapak Eddy Ruchiyat Shoheh Ketua Pembina Yayasan Masjid Pulomas, serta Bapak Hariry Hadi Ketua Pembina YPI dan Yayasan Al-Azhar.

Langit yang semula cerah saat pelaksanaan shalat jenazah Buya seketika berubah mendung, setelah usai shalat dilakukan upacara penyerahan jasad Buya sebagai pejuang kemerdekaan yang memperoleh Bintang Gerilya untuk diserahkan kepada Negara guna dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata.

Saat terjadinya penyerahan jasad beliau yang diserahkan langsung oleh putra kedua beliau Widya Sananda kepada Negara, turun hujan dengan deras seakan mengiringi perpisahan Buya dengan masjid dan lokasi lembaga pendidikan At-Taubah tempat terakhir Buya melakukan aktifitas kesehariannya, diantara turunnya hujan jasad beliau dimasukan dalam mobil jenazah yang dilanjutkan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata oleh TNI, dikarenakan beliau merupakan pejuang Kemerdekaan pada wilayah Teritorial Front Sumatera.

Langit yang cerah tetapi tidak terlalu terik dengan disertai angin semilir yang sangat kontras dengan saat penyerahan jenazah di Masjid Pulomas, telah menyambut kedatangan jasad Buya KH. Ismael Hassan SH., di areal pemakaman TMPN Kalibata dan saat dikeluarkan dan dijalankan dari mobil jenazah jasad Buya disambut barisan siswa, Guru dan Orangtua murid Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam (YAPI) Al-Azhar Rawamangun,  pada detik-detik memasuki areal pemakaman dengan kondisi langit yang tidak terlalu terik matahari bahkan suasana terasa sejuk, terdengar suara adzan Dzuhur dari Masjid didekat TMPN Kalibata, yang tak sengaja mengiringi pemakaman jasad beliau, terasa suasana khidmat dan sejuk sebagaimana keinginan beliau disaat menjelang Allah Yang Maha Kuasa memerintah malaikat menjemputnya.

Allah Maha Besar dengan segala kehendakNya banyak keinginan Buya dikabulkanNya, letak makam Buya KH. Ismael Hassan SH., dimakamkan persis bersebelahan dengan makam H. Tarmizi Taher mantan Menteri Agama wafat satu hari sebelum beliau, merupakan sahabat, rekan perjuangan dan juga merupakan Pembina YPI Al-Azhar, serta beberapa sahabat perjuangan tampak dimakamkan disekitar tempat pemakaman Buya.

Setelah jasad beliau dimakamkan Bapak A.M. Fatwa yang juga sahabat beliau dalam sambutannya mengatakan “KH. Ismael Hassan SH., merupakan pejuang yang tidak pernah menyerah, sebagai pejuang dalam kemerdekaan Negara Republik Indonesia juga Pejuang Pendidikan, kita telah kehilangan putra terbaik yang selalu amanah dalam melaksanakan tugas, arif dan bijaksana. Semoga Allah Yang Maha Pemurah menjaga dan memberikan tempat terbaik kepada beliau dialam kuburnya”.

KH. Ismael Hassan SH., telah wafat dan beliau diberikan tempat pemakaman sesuai keinginan beliau, di pemakaman yang terjaga asri, depan taman, dekat para sahabat dan dekat masjid yang selalu mengumandangkan adzan disaat menjelang sholat. 

Yaa ayyatuhaa (al)nnafsu (al)muthma-innah, irji”ii ilaa Rabbika raadiyatan mardhiyyah, fa(u)dkhulii fii ‘ibaadii, wa(u)dkhulii jannatii.
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan di ridhai, lalu masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu. (QS:89 ayat 27-30).

Selamat jalan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya KH. Ismael Hassan SH., amal dan ajaran Buya telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupan kami dan merupakan contoh untuk dapat kami jadikan sebagai suri tauladan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya, melipatgandakan amal kebaikan dan amal karya bakti semasa hidup Buya, menjadikan Buya termasuk golongan khusnul khatimah dan InsyaAllah memperoleh rumah terbaik disyurga, Amin. InnalIllahi Wa inna Ilaihi rojiun. 

"Allahumma Anta Robbii laa Ilaaha illa Anta, kholaqtanii wa ana 'Abduka, wa ana 'ala 'Ahdika, wa wa'dika mastatho'tu, A'udzu bika min syarri maa shana'tu, Abuu-u laka bini'matika 'Alayya, wa Abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua-laa yaghfirudz-dzunuuba Illa Anta."


WiNanda.13021014