Kamis, 13 Februari 2014

MENGENANG WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.


MENGENANG SATU TAHUN WAFATNYA KH. ISMAEL HASSAN SH.,
AYAHANDA DAN GURUKU


Saat ini 13 Februari 2014 adalah waktu bersejarah bagi kami, tak terasa satu tahun Buya KH. Ismael Hassan SH, wafat dan dimakamkan di di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata Jakarta, pada tanggal 13 Februari 2013 satu tahun yang lalu, Buya menghembuskan nafas terakhir dihadapan keluarga dan sahabat, baik dari kalangan umum maupun pendidikan yang pada akhir kehidupan merupakan tempat menghabiskan waktu kesehariannya.

Buya KH. Ismael Hassan SH., menderita sakit penyempitan arteri pada kedua kakinya sejak tahun 2006, namun semua tidaklah banyak diketahui keluarga dan sahabatnya, Buya masih tetap menjalankan aktifitas keseharian dengan amanah, sampai waktunya di pagi hari saat menjelang adzan shubuh berkumandang tanggal 13 Februari 2013 beliau masuk kamar operasi dan sekitar jam 06.00 pagi Buya keluar kamar operasi dengan mengucapkan syukur kepada Illahi Rabbi dan memberikan senyum teduhnya, kemudian memasuki ruang ICCU Rumah Sakit OMNI Pulomas.

Disaat matahari pagi memancarkan sinar tanggal 13 Februari, segenap keluarga dan sahabat mulai berkunjung menjenguk Buya untuk berjumpa dengan orang yang mereka cintai, Buya tampak tegar menerima kedatangan tamunya bahkan masih sempat memberikan beberapa wejangan sebagaimana layaknya Buya dikala sehat, sampai saat setelah adzan dzuhur berkumandang kondisi Buya mulai menurun, akhirnya beberapa saat setelah adzan isya berkumandang beliau dipanggil menghadap Allah Tuhan Yang Maha Pencipta. InnalIllahi Wa inna Ilaihi rojiun.

Perjalanan hidup Buya KH. Ismael Hassan SH., yang penuh suka dan duka telah memberikan banyak arti untuk memahami dan merenungkan betapa perjalanan hidup seseorang perlu diisi kebaikan dan manfaat bagi sesamanya. Buya telah banyak memberikan contoh dan panutan yang baik, gambaran perjalanan hidup dari seorang yang sederhana, pejuang kemerdekaan Negara Republik Indonesia, Pejuang Pendidikan Berkarakter  sampai menjadi seorang Tokoh Nasional.

Diakhir kehidupan Buya, mulai dari sakit yang dideritanya telah memberikan contoh suatu pendidikan dan pelajaran mengenai keikhlasan seseorang dan juga bagaimana kesiapan untuk menggapai ridho Illahi dalam hembusan nafas terakhir, disaat malaikat diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata ’Alla untuk menjemputnya, kepasrahan karena ikhlas dan keindahan disaat menjelang wafat Buya Ismael Hassan SH dapat dijadikan suatu pelajaran bagi keluarga dan sahabat yang ditinggalkan.  

Buya KH. Ismael Hassan SH. Dilahirkan tanggal 20 Juni 1926 Masehi, di suatu desa terpencil  di kaki Gunung Kelabu Kanagarian Simpang Tonang, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Daerah yang terletak dibelantara Rimba Panti, hutan rimbun dalam deretan Bukit Barisan Sumatera, sekitar 130 km arah utara kota Bukittinggi.

Dirumah yang sederhana di dekat areal persawahan, dalam kehidupan yang serba sederhana Buya dilahirkan dari orangtua Hasan Pinto Kari bin H. Moh. Nur seorang Guru Mengaji dan juga merupakan Tukang Kayu didaerah itu, dengan ibunda Siti Fatimah binti Tuangku Mudo seorang ibu yang sangat mencintai kehidupan keluarga dan anak-anaknya, Buya merupakan anak ke-11 dari 12 bersaudara, 3 orang saudara Buya meninggal dunia saat masih balita.

Kesembilan saudara Buya terdiri dari 3 wanita dan 6 laki-laki, jumlah yang sama dengan cucu langsung Buya 3 wanita dan 6 laki-laki. Adapun saudara Buya adalah, Marahindi Hasan, Sjihabudin Hasan, Nursidah Hasan, Mohamad Arif Hasan, Abdul Malik Hasan, Rohana Hasan, Abdul Muis Hasan, Ismael Hassan, Rakiyah Hasan, enam orang diantaranya adalah berprofesi sebagai Guru Agama, saat ini seluruh keluarga beliau telah berpulang kerahmatullah.

KH. Ismael Hassan SH, beliau biasa dipanggil dengan sebutan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya, bahkan Presiden Soeharto semasa hidupnya menyebut beliau Pak Kiayi, telah menghadap keharibaan Allah Yang Maha Pencipta, pada tanggal 13 Februari 2013 jam 19.55 WIB (berdasarkan waktu kedokteran) di RS OMNI Pulomas, dimakamkan keesokan harinya di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata tanggal 14 Februari 2013 jam 11.55 WIB.

KH. Ismael Hassan SH., wafat meninggalkan istri Hj. Anida Dahar binti H.M. Dahar yang juga putri dari seorang Guru Agama dengan mempunyai 3 orang putra dan 9 cucu, Buya dimakamkan dengan upacara militer, dimulai dari rumah duka Jalan Pulomas Kayu Putih, Jakarta Timur, dishalatkan di Masjid Baabut Taubah Pulomas, masjid yang awalnya adalah sumbangan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YABMP) sebuah masjid ukuran terbesar yang pertama kali dibuat oleh YABMP dan itupun bisa dibangun dengan upaya Buya yang bertemu langsung dengan Ketua YABMP Presiden Soeharto kala itu.

Saat pelaksanaan shalat jenazah yang dihadiri keluarga dan sahabat beliau, serta para siswa, guru dan orangtua murid dari Yayasan Pendidikan Attaubah Pulomas, Al-Azhar Rawamangun, Nurul Iman Jatinegara dan pelayat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, memenuhi areal Masjid Baabut Taubah Pulomas, sambutan keluarga disampaikan oleh putra beliau Widya Sananda, dan sambutan dari Bapak Eddy Ruchiyat Shoheh Ketua Pembina Yayasan Masjid Pulomas, serta Bapak Hariry Hadi Ketua Pembina YPI dan Yayasan Al-Azhar.

Langit yang semula cerah saat pelaksanaan shalat jenazah Buya seketika berubah mendung, setelah usai shalat dilakukan upacara penyerahan jasad Buya sebagai pejuang kemerdekaan yang memperoleh Bintang Gerilya untuk diserahkan kepada Negara guna dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata.

Saat terjadinya penyerahan jasad beliau yang diserahkan langsung oleh putra kedua beliau Widya Sananda kepada Negara, turun hujan dengan deras seakan mengiringi perpisahan Buya dengan masjid dan lokasi lembaga pendidikan At-Taubah tempat terakhir Buya melakukan aktifitas kesehariannya, diantara turunnya hujan jasad beliau dimasukan dalam mobil jenazah yang dilanjutkan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Kalibata oleh TNI, dikarenakan beliau merupakan pejuang Kemerdekaan pada wilayah Teritorial Front Sumatera.

Langit yang cerah tetapi tidak terlalu terik dengan disertai angin semilir yang sangat kontras dengan saat penyerahan jenazah di Masjid Pulomas, telah menyambut kedatangan jasad Buya KH. Ismael Hassan SH., di areal pemakaman TMPN Kalibata dan saat dikeluarkan dan dijalankan dari mobil jenazah jasad Buya disambut barisan siswa, Guru dan Orangtua murid Yayasan Asrama dan Pendidikan Islam (YAPI) Al-Azhar Rawamangun,  pada detik-detik memasuki areal pemakaman dengan kondisi langit yang tidak terlalu terik matahari bahkan suasana terasa sejuk, terdengar suara adzan Dzuhur dari Masjid didekat TMPN Kalibata, yang tak sengaja mengiringi pemakaman jasad beliau, terasa suasana khidmat dan sejuk sebagaimana keinginan beliau disaat menjelang Allah Yang Maha Kuasa memerintah malaikat menjemputnya.

Allah Maha Besar dengan segala kehendakNya banyak keinginan Buya dikabulkanNya, letak makam Buya KH. Ismael Hassan SH., dimakamkan persis bersebelahan dengan makam H. Tarmizi Taher mantan Menteri Agama wafat satu hari sebelum beliau, merupakan sahabat, rekan perjuangan dan juga merupakan Pembina YPI Al-Azhar, serta beberapa sahabat perjuangan tampak dimakamkan disekitar tempat pemakaman Buya.

Setelah jasad beliau dimakamkan Bapak A.M. Fatwa yang juga sahabat beliau dalam sambutannya mengatakan “KH. Ismael Hassan SH., merupakan pejuang yang tidak pernah menyerah, sebagai pejuang dalam kemerdekaan Negara Republik Indonesia juga Pejuang Pendidikan, kita telah kehilangan putra terbaik yang selalu amanah dalam melaksanakan tugas, arif dan bijaksana. Semoga Allah Yang Maha Pemurah menjaga dan memberikan tempat terbaik kepada beliau dialam kuburnya”.

KH. Ismael Hassan SH., telah wafat dan beliau diberikan tempat pemakaman sesuai keinginan beliau, di pemakaman yang terjaga asri, depan taman, dekat para sahabat dan dekat masjid yang selalu mengumandangkan adzan disaat menjelang sholat. 

Yaa ayyatuhaa (al)nnafsu (al)muthma-innah, irji”ii ilaa Rabbika raadiyatan mardhiyyah, fa(u)dkhulii fii ‘ibaadii, wa(u)dkhulii jannatii.
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan di ridhai, lalu masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu. (QS:89 ayat 27-30).

Selamat jalan Papi, Ayahanda, Kakek, Angku, Buya KH. Ismael Hassan SH., amal dan ajaran Buya telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupan kami dan merupakan contoh untuk dapat kami jadikan sebagai suri tauladan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya, melipatgandakan amal kebaikan dan amal karya bakti semasa hidup Buya, menjadikan Buya termasuk golongan khusnul khatimah dan InsyaAllah memperoleh rumah terbaik disyurga, Amin. InnalIllahi Wa inna Ilaihi rojiun. 

"Allahumma Anta Robbii laa Ilaaha illa Anta, kholaqtanii wa ana 'Abduka, wa ana 'ala 'Ahdika, wa wa'dika mastatho'tu, A'udzu bika min syarri maa shana'tu, Abuu-u laka bini'matika 'Alayya, wa Abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua-laa yaghfirudz-dzunuuba Illa Anta."


WiNanda.13021014

1 komentar:

  1. Banyak sekali ajaran Buya yang diberikan bagi keturunannya dan orang sekitarnya. Namun sangat disayangkan kalau ilmu dari buya hanya disimpan bahkan diimplementasikan dalam sikap tidak baik.

    BalasHapus